Search

Hepatitis


A.    DEFINISI HEPATITIS
Secara etiomologi pengertian hepatitis adalah Hepa: Hati ; Titis: infeksi. Jadi hepatitis berarti sakit infeksi hati. disebut juga Hepatotropic karena penyakit infeksi ini cenderung hanya ditemukan pada daerah beriklim hangat/ daerah tropik. Kesimpulannya hepatitis adalah suatu penyakit infeksius organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis.

B.     ETIOLOGI ATAU PENYEBAB
Infeksi hepatitis umumnya disebabkan oleh virus yang sejenis, yaitu virus Hepatitis A, virus Hepatitis B, Virus Hepatitis C, Virus Hepatitis E, dan Virus Hepatitis Non A Non B. Masing-masing virus mempunyai beberapa perbedaan dan kesamaan apabila ditelaah lebih lanjut dari petogenesis, akibat penyakit & prognosa, sampai pada pencegahan dan pemberantasan.
  • Hepatitis A (HVA)
Adalah virus yang mengandung RNA. Berukuran kira-kira separuh Virus Hepatitis B yaitu berdiameter 27 nm. Termasuk dalam keluarga Picarnovirus. Terdapat banyak pada negara-negara berkembang dibandingkan negara maju, pada iklim hangat dan kebersihan yang kurang.
  • Hepatitis B (HVB)
Adalah virus yang mengandung DNA, diameter virus ini hanya 42 nm, termasuk dalam keluarga besar Hapednovirus. Tubuh virus ini dari selubung luar (mengandung antigen hepatitis B atau HbcAg).
  • Hepatitis C (HCV)
Struktur tubuhnya hampir sama dengan virus hepatitis A&B, namun tidak terdapat banyak kesamaan. HCV mempunyai HCV Ab (suatu antibody igG) yang dapat menembus plasenta.
  • Hepatitis D (HDV)
Dahulu disebut virus Delta, merupakan Virus tak sempurna yang mengandung RNA . Biasanya hanya menyerang orang yang sudah terkena HVB



  • Hepatitis E (HEV)
Hampir sama dengan hepatitis A. HEV hanya terdapat di daerah-daerah tertentu, kasus-kasus yang dilaporkan hanya terbatas pada orang-orang yang berkunjung pada daerah endemik.
  • Non-A, Non-B (NANB)
Merupakan kategori pengecualian bagi virus hepatotropic yang menunjukan hasil pemerikasaan serologik negatif untuk jenis-jenis virus hepatitis lainnya, tetapi sering digolongkan sebagai hepatotropik.

C.    PATOGENESIS
a.       Hepatitis A.
Umumnya virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui transfusi darah dan cairan tubuh, tetapi paling banyak kasus infeksi yang ditemukan melalui makanan yang terkontaminasi tinja penderita hepatitis A. Setelah masuk di dalam tubuh HVA memerlukan waktu untuk berforelasi di dalam sel hati. Dari hati virus yang sudah bereplikasi menyebar ke sirkulasi darah, karena hati mempunyai fungsi untuk penampung dan penyaring darah sehingga dalam dua minggu virus sudah dapat ditemukan pada tinja dan urin. Karena HVA bersifat infeksi akut artinya lebih singkat dari kronis maka jarang ditemukan penderita yang carier/ penderita yang memiliki virus dalam masa dormant.
b.      Heptitis B
Virus HVB masuk ke dalam tubuh lewat suntikan, transfusi darah dan cairan tubuh, aktivitas seksual (seks oral, seks vagina, anal seks) sepintas hampir sama dengan HIV/AIDS karena itu juga tergolong dalam penyakit menular seksual. Setelah virus sudah masuk dalam darah otomatis hati juga segera terdapat virus ini. Untuk virus hepatitis B ini terkadang gejala nampak sebentar, hal ini sangat berhubungan erat dengan daya tahan tubuh terhadap virus atau antibody, apabila daya tahan tubuh orang yang terinfeksi virus baik, maka tubuh akan segera menciptakan antibodi untuk melawan virus tersebut sehingga sering ditemukan kasus tidak timbulnya gejala sama sekali atau singkatnya gejala yang nampak seperti hepatitis A. Apabila tubuh tidak cepat membuat antibodi, maka virus yang terdapat dalam hati memperbanyak diri dan mulai merusak sel-sel hati sehingga pada fase lanjut dapat terlihat pada gejala ikterus, pembengkakan hati, sampai pada peradangan dan kanker. Meskipun darah adalah wahana transmisi paling efektif virus hepatitis juga terdapat cairan tubuh lain (cairan vagina, semen, saliva) dikarenakan penyebaran virus ini melalui saluran getah bening. Virus hepatitis B ini jarang ditemukan dalam feses atau urin.
c.       Hepatitis C
Transfusi darah dan penggunaan obat –obatan intravena merupakan jalan masuk dari virus heptitis C. Hampir sama dengan jenis virus hepatotropik yang lain yaitu virus yang sudah menginfeksi tubuh lewat darah dan cairan tubuh selanjutnya akan mulai merusak sel-sel hati apabila hati sudah terinfeksi saluran empedu juga ikut terpengaruh yang mengakibatkan pigmen billirubin pada saluran empedu tertumpah dan meresap dalam darah karena sekat antara pembuluh darah dan saluran empedu tidak terlalu jauh letaknya. Akibat dari billirubin dalam ukuran yang tidak normal dalam darah mengakibatkan ikterus atau warna kuning yang tidak normal yang ditemukan pada kulit, sklera dan kulit  dan urin. Biasanya ikterus baru nampak setelah demam yang terjadi akibat dari infeksi virus di dalam tubuh. Hal serupa juga dijumpai pada infeksi virus hepatotropik yang lain.
d.      Hepatitis D
Agar infeksi dan replikasi virus di dalam tubuh dapat terjadi, diperlukan kehadiran virus hepatitis B. Kehadiran HVB merupakan prasyarat bagi infeksi virus hepatitis D. Dengan kata lain, infeksi virus hepatitis D atau virus delta ini hanya masuk dan menyerang hanya pada sesorang pembawa virus hepatitis B kemudian terpapar virus delta atau bila seseoarang terinfeksi secara stimulan oleh virus hepatitis B dan virus hepatitis D.
e.       Hepatitis E
Sangat mirip dengan hepatitis A, virus masuk ke dalam tubuh melalui makanan tercemar tinja penderita hepatitis E. Perbedaan dalam fase patogenesis dengan virus hepatitis A adalah pada infeksi  HEV fatalitas tinggi pada ibu hamil karena HEV mempunyai suatu kemampuan untuk menembus plasenta.
f.       Hepatitis NANB
Perjalanan atau riwayat penyakit hepatitis NANB di dalam tubuh mirip dengan jenis virus hepatotropik yang lain. Namun patogenesis secara pasti belum dapat digambarkan secara jelas karena diperkirakan hepatotropik NANB lebih dari satu macam sehingga masih dalam penelitian.


D.    MASA INKUBASI

Masa tunas hepatotropik sebenarnya merupakan bagian dari riwayat penyakit/virus di dalam tubuh, tetapi akan diuraikan dalam tabel dibawah ini agar dapat dilihat perbedaan dari masa inkubasi masing-masing virus.

Masa inkubasi
Hepatitis A (HVA)
Hepatitis B (HVB)
Hepatitis C (HVC)
Hepatitis D (HDV)
Hepatitis E (HEV)
NonA, NonB (NANB)
2-6 minggu
1 – 6
 bulan
2 minggu - 6 bln
3 minggu -3 bln
3 – 6 minggu
2 mgu -6  bulan

E.     GEJALA KLINIS
A.    Stadium Praikterik
Berlansung selama 4-7 hari. Pasien akan mengeluh sakit kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, demam, nyeri otot, nyeri abdomen atas, urin berubah menjadi warna kecoklatan seperti air teh.
Demamnya umumnya ditemukan pada hepatotropic B,C,D,NANB, tetapi cenderung ditemukan pada awal gejala hepatitis A dan E.
B.     Stadium Ikterik
Berlangsung selama 3-6 minggu. Ikterus terlihat pada sklera, kemudian pada seluruh tubuh, keluhan berkurang, tetapi pasien masih lemah, anoreksia dan muntah. Tinja akan berwarna kelabu atau kuning muda, hepar menunjukan pembengkakan dan nyeri tekan.
Penyakit imun kompleks (perdarahan saluran cerna, gagal ginjal, gangguan elektrolit, gangguan pernapasan, hipotensi dan kematian). Pada stadium ini sering terjadi pada hepatitis B,C,D,NANB.
C.     Stadium PascalIkterik
Ikterus mereda, warna urin dan tinja normal kembali. Penyembuhan pada anak lebih cepat daripada orang dewasa yaitu pada stadium 2, karena penyebab yang biasanya berbeda.
Pada hepatitis A&E setelah masa penyembuhan dapat sembuh total, berbeda dengan hepatitis B,C,D,NANB akan bersifat carrier.



F.     UJI DIAGNOSIS
Pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan terhadap penderita hepatotropik antara lain:
A.          Pemeriksaan Klinis
Warna kuning kulit biasanya terlihat jelas, tetapi kelainan-kelainan pada kulit dapat bermacam-macam pada penderita. Jika terjadi kelainan otak penderita akan terlihat gemeteran dan bisa terjadi koma. Kadang-kadang hati membesar dan mengeras sehingga dokter dapat merabanya dengan mudah pada perut kanan atas. Tetapi sering kali terjadi adalah ukuran hati normal dan makin mengecil.
Tanda-tanda lain yang dapat terlihat adalah:
o   Kulit menjadi tipis seperti kertas
o   Mudah mengalami memar
o   Terlihat gambaran pembuluh darah pada wajah dan tubuh
o   Kuku berwarna pucat dan lebih cembung
o   Perut menjadi buncit dan pergelangan tangan bengkak
o   Berbicara dan berpikir lamban
o   Ingatan lemah.
B.           Pemeriksaan Laboratorium
·         Pada pemeriksaan darah, tinja, urin dan cairan tubuh lain (kelenjar kelamin dan semen) di laboratorium akan menujukkan tanda positif bagi virus hepatotropik yang diuji.
·         Bilirubin, bagian yang berwarna kuning dalam serum darah, kadarnya akan meninggi dalam darah. Pemeriksaan biasanya dilakukan berulang-ulang untuk mengontrol perkembangan penyakit.
·         Kadar enzim dalam darah akan meningkat ke ukuran yang tidak normal. Enzim-enzim tersebut antara lain transaminase fosfatasealkali
·         Albumin merupakan protein yang berguna yang dihasilkan oleh hati. kadarnya dalam darah akan menurun jika terjadi kerusakan hati.
·         Globulin, limfosit menghasilkan immunoglobulin sejenis protein yang dapat meredakan peradangan. Dua jenis immunoglobulin yang penting dalam penyakit hati adalah immunoglobulin G dan immunoglobulin M.
·         Kolesterol, kadarnya dalam darah meningkat akibat kerusakan hati, sehingga hati tidak dapat mengemulsi lemak.
·         Ureum, merupakan hasil pemecahan protein di dalam hati, akan ditemukannya penurunan ureum di dalam darah.
·         Elekterolit, merupakan unsur-unsur garam. Pada kerusakan hati akibat virus hepatotropik kadar kalium dan natrium cenderung menurun.

Selain itu dapat dilakukan dengan diagnosis serologis pada hepatitis akut.
Hasil pemeriksaan
Interprestasi
Anti-HAV
HBsAg
Anti-HBc
+
-
-
Infeksi Hepatitis A akut yang baru terjadi
-
+
-
Infeksi hepatitis B akut
-
+
+
Infeksi Heptitis akut atau kronis/karier dengan gelaja yang tidak ada hubungannya dengan tipe B
-
-
+
Kemungkinan Baru Terinfeksi Hepatitis B.
Bila Anti- Hbs (+) à Infeksi Hepatitis B
Yang lalu atau Non-A non-B atau virus lain.
Bila anti HBs (-) à infeksi hepatitis akut baru terjadi.
-
-
-
Infeksi Heptitis Non-A, non B atau virus lain
+
+
+
Hepatitis A baru terjadi dan infeksi hepatitis b kronis. Gambaran yang jarang terjadi.

G.    AKIBAT PENYAKIT DAN  KOMPLIKASI
  • Hepatitis A
Akibat maupun komplikasi yang ditimbulkan lebih ringan pada anak-anak daripada orang dewasa. Akibat yang dapat timbul adalah ikterik pada sklera dan kulit, asites pada perut dan pergelangan kaki, hepatomegali, ingatan lemah, dan lambat berpikir
Dampak serius yang ditimbulkan adalah :
-          Dapat sembuh total, pada penderita yang telah melewati masa penyembuhan.
-          Kegagalan hati/hati fulminan
-          Kematian, walaupun jarang terjadi.
  • Hepatitis B
Akibat yang dapat ditimbulkan : ikterus pada kulit dan sklera, hepatomegali, asites pada perut dan pergelangan kaki, ingatan lemah dan berbicara dan lamban berpikir.
Dampak serius:
o   Menjadi karier setelah masa penyembuhan
o   Hati fulminan
o   Komplikasi
o   Kanker hati
o   Angka kematian lebih tinggi dibandingkan HAV
Hepatitis B sering menjadi kronis dan selanjutnya akan menyebabkan kerusakan berupa nekrosis serta kolaps jaringan retikulum. Pembentukan hiperplasi noduler dan jaringan parut oleh virus Non-a, Non-B sering menjadi penyebab penyakit hati kronis. Karnisoma hati prime dapat menjadi salah satu komplikasi Hepatitis B, tetapi penyakit ini sebenarnya merupakan hasil bersama antara faktor Genetik, makanan, hormon, toksin jamur, zat karsinogen dan faktor lingkungan lain. Virus hepatitis B dapat menjadi karsinogen atau ko-karsinogen dalam infeksi hati yang menetap.
§  Hepatitis C
Akibat yang dapat ditimbulkan : ikterus pada kulit dan sklera, asites pada perut dan pergelangan kaki, ingatan lemah dan berbicara dan lamban berpikir.
Dampak serius :
o   Menjadi karier setelah masa penyembuhan
o   Kanker hati, walau jarang ditemukan
o   Hati fulminan
o   Kematian
§  Hepatitis D
Akibat yang ditimbulkan penyakit sama seperti akibat dari penyakit hepatitis B.
Dampak serius:
§  Menjadi karier setelah masa penyembuhan
§  Kanker hati
§  Kegagalan hati
§  Kematian, persentase sangat tinggi
§  Hepatitis E
Akibat penyakit yang ditimbulkan menunjukkan kemiripan dengan hepatitis A.
Dampak serius:
§  Sembuh total
§  Hati fulminan
§  Kematian pada wanita hamil sangat tinggi
§  Hepatitis NANB
Umumnya akibat penyakit yang ditimbulkan ringan hingga berat. Tidak menunjukkan adanya komplikasi, dari data ditunjukkan adanya penyembuhan total, namun hal tersebut belum jelas. Untuk dampak yang ditimbulkan relatif ringan.

H.    CARA PENCEGAHAN
-          Higiene Perorangan
-          Lingkungan dan sanitasi yang baik, pemakaian air bersih, pembuangan ekskreta, pembuatan sumur yang memenuhi standar.
-          Mencegah kontaminasi makanan, memasak dengan baik bahan kanan dan minuman.
Barang-barang yang tercemar hepatitis A harus disucihamakan terlebih dahulu yaitu dapat direbus atau dapat digunakan formalin, klor, atau radiasi ultraviolet.
§  Pencegahan sebelum kontak yaitu untuk keluarga yang terdekat dan tinggal serumah. Pemberian dengan menggunakan HBlg (Human Normal Immunoglobulin), dosis yang dianjurkan adalah 0.02 ml/kg BB, diberikan pada kurun waktu tidak lebih dari seminggu setelah kontak
§  Pencegahan sebelum kontak yaitu terhadap mereka yang akan berpergian ke daerah endemik. Kunjungan singkat kurang dari 2 bulan: dosis 0,02 ml/kg BB. Sedangkan kunjungan lama leboh dari 4 bulan:  dosis 0,08 ml/kg BB.
-          Untuk Hepatitis B, menghindari penggunaan jarum suntik instreril, mengurangi hubungan seks beresiko, penggunaan kondom,dll.
-          Pada hepatitis C menghindari transfusi darah dan cairan tubuh yang terinfeksi.
-          Pencegahan yang paling ditekankan untuk hepatitis E adalah menghindari berpergian ke daerah endemik.
-          Sedangkan untuk hepatitis NANB, untuk mencegah mirip dengan rekomendasi-rekomendasi yang diberikan untuk hepatitis C.

I.       TINDAKAN LANJUTAN (FOLLOW UP)
Pada dasrnya penatalaksanaan (tindakan Lanjutan) infeksi virus hepatitis  bersifat suportif, tidak ada yang spesifik. Langkah tindak lanjut dari hepatitis ini antara lain:


1.      Tirah baring.
Tirah baring telah merupakan suatu cara dalam mengobati suatu penyakit. Yaitu penderita menjalani istirahat ditempat tidur secara penuh padahal penderita merasa cukup kuat. Namun istirahat di tempat tidur yang berkepanjangan sebaiknya dicegah. Jika penderita merasa baik, walaupun mata masih kuning, penderita sebaiknya diizinkan melakukan kegiatan sendiri di ruangan, ke kamar mandi, dll, sepanjang dalam kemampuan dan tidak terdapat perasaan letih. Sebaiknya semua kegiatannya dilakukan secara bertahap.
2.      Diet . Penderita seharusnya mendapat diet cukup kalori.
3.      Simptomatik
Pemberian obat-obatan terutama untuk mengurangi keluhan misalnya tablet antipiretik parasetamol untuk demam, sakit kepala, nyeri otot, nyri sendi, serta food suplement.
4.      Perawatan di Rumah Sakit
Terutama pada penderita dengan sakit berat, muntah yang terus menerus sehingga memerlukan pemberian cairan parenteral.