Search

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

AUGUSTE COMTE - TOKOH POSITIVISME DAN BAPAK SOSIOLOGI



Pengantar
August Comte atau juga Auguste Comte (Nama panjangnya: Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai "Bapak Sosiologi" dan  tokoh utama Positivisme. Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial.

file lengkap dapat didownload disini

ILMU DAN HUMANIORA


HUMANIORA
Elwood mendefinisikan  “Humaniora” sebagai seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya ( Elwood, 1975 )
Definisi ini juga menyiratkan pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan amung (unique) di dalam ekosistem, namun sekaligus juga amat tergantung pada ekosistem itu dan ia sendiri bahkan merupakan bagiannya.
Karena itu, dalam makalah ini arah pengertian 'humaniora' yang memperluas hubungan mendatar yang tersirat dalam frasa 'terhadap sesamanya' itu menjadi hubungan trisula atau bercabang tiga: hubungan manusia dengan Khalik­nya, dengan sesamanya dan dengan alam, baik makhluk yang jasad-jasad hidup, maupun benda-benda mati.
Pendapat para ahli filsafat tentang hubungan ilmu dan kehidupan manusia
1.    Pendapat Marcus Tullius Cicero ( 106 – 43 SM )
Seorang filsuf Romawi Kuno yang dapat tergolong sebagai filsuf Stoic ialah Cicero. Ia menyebut filsafat sebagai ibu dari semua pengetahuan dan menulis buku De Natura Deorum. Definisinya yang sangat singkat tentang filsafat ialah Ars Vitae ( the art of life) yang dapat diartikan pengetahuan kehidupan. Pada zaman Renaissance di Eropa  (  abad ke 14 – 16 ) konsepsi filsafat dari Cicero dianut oleh orang – orang biasa yang terpelajar.

2.    J. A. Leighton dlm The Field of Philosophy, 1919
Dalam tulisannya menegaskan bahwa semua filsafat mencari kebulatan dan keselarasan pemahaman yang beralasan tentang sifat alami dan makna dari semua segi pokok kenyataan. Suatu  filsafat yang lengkap meliputi sebuah pandangan dunia atau konsepsi yang beralasan tentang seluruh alam semesta dan sebuah pandangan hidup atau ajaran tentang berbagai nilai, makna dan tujuan kehidupan manusia.

3.    Raymond F. Piper dan Paul W. Ward
Filsafat  merupakan  suatu  penafsiran  yang  kritis  dan  tuntas  mengenai  hal-hal  yang  nyata  dan  ideal  serta  mengenai  nasib  manusia  sebagaimana  terlibat  di  dalamnya (acritical  and  thorough–going  interpretation  of  reals  and  ideals  and  of  man’s  fortune  as  wrapped  up  in  them).



4.    Lewis  White  Beck
Filsafat  merupakan  suatu  usaha  yang  gigih  untuk  memikirkan  hal  -  hal  sampai  tuntas    (a  persist – ent  attempt  to  things  through ) .  Hal  -  hal  yang  harus  dipikirkan  dan  ditemukan  ialah  ciri  -  ciri  umum  dari  realitas ,  pentingnya  pengalaman  manusiawi  dan  kedudukan  manusia  dalam  alam semesta  sebagai  suatu  kebulatan .

5.    Peter  Winch
Filsafat  adalah  suatu  penyelidikan  terhadap  sifat  alami  dari  pengetahuan  manusia  tentang  kenyataan  dan  terhadap  perbedaan  yang  dibuat  oleh  kemungkinan  pengetahuan seperti  pada  kehidupan  manusia .

6.    Theodore  Brameld
Filsafat  adalah  merupakan  usaha  yang  gigih  dari  orang  -  orang  biasa  maupun  orang  -  orang  cerdik  pandai  untuk  membuat  kehidupan  sedapat  mungkin  dapat  dipahami  dan  bermakna  ( the  persistent  effort  of  both  ordinary  and  sophisticated  people  to  make  life  as  intelligible  and  meaningful  as  possible ).

7.    Peter  Caws.
Filsafat  ilmu  merupakan  suatu  bagian  filsafat  yang  mencoba  berbuat  bagi  ilmu  apa  yang  filsafat  seumumnya  melakukan  pada  seluruh  pengalaman  manusia .  Filsafat  melakukan  dua  macam  hal :  di  satu  pihak ,  ini  membangun  teori  -  teori  tentang  manusia  dan  alam  semesta ,  dan  menyajikannya  sebagai  landasan  -  landasan  bagi  keyakinan  dan  tindakan ;  di  pihak  lain ,  filsafat  memeriksa  secara  kritis  segala  hal  yang  dapat  disajikan  sebagai  suatu  landasan  bagi  keyakinan  atau  tindakan ,  termasuk  teori  -  teorinya  sendiri ,  dengan  harapan  pada  penghapusan  ketakonstan  dan  kesalahan ) .

Analisis Atas Metode Ilmiah Descartes Dan Hume


Rasionalisme Descartes dan Empirisme Hume masing-masing memiliki kelemahan apabila digunakan sebagai sebagai sebuah metode ilmiah. Kelemahan – kelemahan ini misalnya diperlihatkan oleh Honer dan Hunt. Pada Rasionalisme mereka melihat beberapa kelemahan. Pertama, pengetahuan yang dibangun oleh Rasionalisme hanyalah dibentuk oleh ide yang tidak dapat dilihat dan diraba. Eksistensi tentang ide yang sudah pasti maupun yang bersifat bawaan itu sendiri belum dapat didukung oleh semua orang dengan kekuatan dan keyakinan yang sama. Kedua, kebanyakan orang merasa kesulitan untuk menerapkan konsep Rasionalisme ke dalam kehidupan keseharian yang praktis. Ketiga, Rasionalisme gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia. Banyak dari ide yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubah pada waktu yang lain.
Sementara itu pada Empirisme Honer dan Hunt juga melihat beberapa kelemahan. Pertama, Empirisme didasarkan kepada pengalaman. Tetapi apakah yang dimaksud dengan pengalaman? Pada satu waktu ia hanya berarti sebagai ransangan pancaindera. Lain waktu ia berarti sebagai sebuah sensasi ditambah dengan penilaian. Sebagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak berhubungan langsung dengan kenyataan objektif yang sangat ditinggikan oleh kaum Empiris. Fakta tidak mempunyai apapun yang bersifat pasti. Kedua, sebuah teori yang sangat bergantung kepada persepsi pancaindera kiranya melupakan kenyataan bahwa pancaindera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna. Pancaindera sering menyesatkan karena tidak memiliki perlengkapan untuk membedakan antara khayalan dan fakta. Ketiga, Empirisme tidak memberikan kepastian. Apa yang disebut sebagai pengetahuan yang mungkin, sebenarnya merupakan pengetahuan yang seluruhnya diragukan.
Kelemahan-kelemahan dari masing-masing pandangan Rasionalisme dan Empirisme di atas, membuka celah bagi ditemukan dan dibentuknya sebuah pandangan baru yang dapat mengatasi kelemahan – kelemahan tadi. Salah satu usaha untuk mengatasi kelemahan-kelemehan tadi adalah dengan mengkombinasikan atau mengawinkan kedua pandangan dari aliran tersebut. Terdapat sebuah anggapan bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Memang ada beberapa alasan untuk mendukung anggapan ini, karena para ilmuwan dalam mengumpulkan fakta-fakta tertentu, melakukan berbagai pengamatan dan mempergunakan data inderawi. Namun demikian, apabila dicermati dengan lebih mendalam maka didapatkan bahwa kegiatan para ilmuwan tersebut merupakan suatu kombinasi antara prosedur rasional dan empiris. Dengan demikian, akal dan pengalaman dipakai secara bersamaan sehingga terjadi perkawinan antara pandanganRasionalisme Descartes dengan Empirisme Hume.
Perkawinan inilah yang penulis maksudkan dengan metode ilmiah yang didalamnya terdapat prosedur – prosedur tertentu yang sudah pasti yang dipergunakan dalam usaha memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi oleh seorang ilmuwan. Menurut Kattsoff proses metode ilmiah dimulai dengan pengamatan (artinya pengalaman-pengalaman) dan diakhiri dengan pengamatan pula. Tetapi permulaan dan akhir ini hanya sebuah pembagian yang bersifat nisbi.
Pengetahuan ilmiah, menurut Suriasumantri, harus memenuhi dua syarat utama. Pertama, pengetahuan itu harus bersifat harus konsisten, yakni sejalan dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi. Kedua, pengetahuan tersebut harus cocok dengan fakta-fakta empiris, sebab teori yang bagaimanapun konsistennya jika sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah. Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah berikut:
1.      Perumusan masalah; berisikan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan berbagai faktor yang terkait di dalamnya.
2.      Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis; argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengait dan membentuk permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
3.      Perumusan hipotesis; jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
4.      Pengujian hipotesis; pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5.      Penarikan kesimpulan; penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Apabila dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis, maka hipotesis diterima. Sebaliknya, apabila dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis, maka hipotesis ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian pengetahun ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan yang mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya secara korespondensi.
Terlihat bahwa metode ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif dengan logika induktif yang ditandai dengan Rasionalisme dan Empirisme hidup secara berdampingan dengan sebuah mekanisme korektif.

Pengantar Filsafat Ilmu


Pengetahuan manusia ada tiga macam yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai adat. Dengan ini para filosof banyak mengemukakan pendapatnya tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu diperoleh manusia. Dan pada zaman kemodernan filsafat muncullah beberapa aliran dalam hal ini. Dan ada dua kelompok besar yang saling berlatar belakang berbeda dan beradu argumentasi untuk eksistensi masing – masing, yaitu aliran Rasionalisme dan Empirisme.

Positivisme
Positivis berpendapat bahwa sumber pengetahuan hanya berlaku terletak pada pengalaman indrawi. Mereka menolak segala bentuk spekulasi metafisik dan teorisasi abstrak. Istilah ini berawal dari Comte yang menyatakan bahwa peradaban melewati tiga tahap, yang terakhir adalah ilmiah atau positif.

Rasionalisme
Sebuah sikap filosofis yang melihat semua pengetahuan berdasarkan alasan (dari rasio Latin - alasan). eksponen terbesarnya, Descartes, segera menemukan pandangan-pandangannya ditentang oleh pandangan empiris Hume dan Locke bahwa pengetahuan didasarkan pada data dan pengalaman rasa, bukan pikiran murni.

Relativisme
Posisi dalam filsafat yang tidak mengakui nilai absolut atau kebenaran. Protagoras '"Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu" adalah sebuah ekspresi awal dan dirumuskan dalam oposisi untuk mencari hal yang absolut, universal definisi yang berlaku dari ide-ide seperti kebajikan dan keadilan yang dilakukan Socrates dan Plato. Relativisme dalam arti lebih lembut berarti bahwa kita harus mempertimbangkan arti laporan dalam konteks. Di zaman modern, misalnya, antropolog mengadopsi sikap relativistik dan mencoba untuk tidak menafsirkan pengamatan mereka secara eksklusif dalam konteks sistem nilai budaya mereka sendiri.